Menghapus Derita Hidup dengan Taubat

0
408
bertaubat

Dosa Adalah Sumber Derita

Taukah anda, bahwa dosa atau maksiyat ternyata memiliki dampak buruk dan berbahaya bagi hati maupun badan, baik di dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ibnu Qoyyim al Jauziah telah menyampaikan dalam kitabnya yang berjudul Jawabul Kafi, bahwa diantara dampak buruk dosa adalah: terhalangnya ilmu, terhalangnya rizki, melemahkan badan, kegelapan bagi hati, jatuhnya martabat, ditimpakknnya kehinaan , dan berbagai petaka/musibah yang ditimpakan baik terhadap perorangan maupun kolektif.

Apa sebab dikirimnya petir yang dahsyat kepada kaum Tsamud sehingga mereka mati seketika? Apa yang mengundang datangnya angin dingin kepada kaum ‘Ad, hingga tubuh mereka seakan tonggak kurma yang lapuk? Apa yang menyebabkan dijungkir balikkannya Kaum Luth, bahkan masih ditambah dengan dihujani batu yang membara? Apa yang menyebabkan ditenggelamkannya Fir’aun di Laut Merah? Apa yang menyebabkan dibenamkannya Qorun beserta harta bendanya? Tidak lain adalah karena dosa yang mereka lakukan. Alloh Ta’ala berfirman: “Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (QS. Al Hajj: 45).

Dosa Adalah Keniscayaan

Lalu apa jadinya, bila faktanya kita tidak mempu berlepas diri dari dosa. Mata sering berkhianat, mulut sering berdusta, telinga bak tong sampah tanpa saringan, tangan sering menzalimi orang lain, perut sering kemasukan makanan yang syubhat bahkan haram, kaki sering melangkah ke tempat-tempat kemungkaanr? PerintahNya sering diabaikan, laranganNya sering diterjang. Layak, bila petaka dan derita sering tak terelakan, bencana baik terhadap perorangan maupun kolektif tak dapat terhindarkan. Tentu yang mesti difikirkan adalah obat apa yang bisa menjadi penawar derita ini? Solusi apa yang mesti dicari?
Taubat Adalah Penawarnya

Terkadang kita berfikir dari sisi kauniyah saja dalam memandang dan mencari solusi dari problematika yang kita hadapi. Hingga kesimpulan yang muncul atas musibah yang dihadapinyapun tak lebih: “Ah…ini kan romantika hidup semata, kadang susah kadang senang, kadang lapang kadang sempit”. Yang lain bahkan menganggap musibah yang terjadi karena “dewi fortuna” yang belum berpihak kepadanya, hingga muncul juga komentar: “Pancen wong pinter kalah karo wong begja” . Dan berbagai komentar lain, yang intinya sering manusia lupa mencari solusi syar’i dari problematika yang dihadapi. Solusi Syar’i yang dimaksud adalah taubat atau istighfar  (yang merupakan bagiann dari taubat).

Tentang ini, Imam Al-Qurtubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasannya ia berkata: “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain lagi berkata kepadanya, ’Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!!’ maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Beristighfar kepada Allah! Dan yang lainnya lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula),’Beristighfarlah kepada Allah!.

Dari kisah diatas mungkin kita bertanya: “Apa korelasi antara taubat dengan rejeki? Apa hubungan antara taubat dengan kemandulan dan berbagai problematika yang lain? Dr ‘Aidh bin Abdulloh Al Qorni di dalam bukunya: ilallazina ashrofu ala anfusihim menyebutkan setidaknya ada beberapa kentungan dari taubat (istighfar):

Pertama : Orang yang bertaubat akan diberi  mata’an hasana. Sebagaimana firmanNya: “…Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi mata’an hasanan [kenikmatan yang baik (terus menerus)] kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan” (QS. Hud: 3). Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa mata’an hasana adalah kesenangan yang baik ini berkenaan dengan jasmani maupun ruhani. Sehingga Alloh ta’ala menghindarkan dari kesusahan, kecemasan dan keguncangan dari diri orang yang banyak beristighfar.

Kedua : Terhindar dari Musibah, sebagaimana firmanNya: Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS. Al anfal: 33). Di dalam ayat ini ada dua jaminan yang dengannya suatu kaum aman dari bencana sebagaimana bencana yang telah ditimpakan kepada umat-umat sebelumnya, yaitu: Keberadaan Nabi ditengah-tengah kaumnya, dan bila kaum tersebut masih mau beristighfar.

Ketiga : Orang yang beristighfar dijamin dengan rizqi yang halal.  Sebagaimana Firman Alloh ta’ala:  “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.(QS. Nuh: 10-12)

Keempat : Lenyapnya berbagai kesulitan. Alloh Ta’ala berfirman: Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS Hud: 52)
Imam Al-Qurthubi mengatakan: ”Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Allah tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.”
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ اْلاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Dishahihkan oleh Imam Al-Hakim (AlMustadrak, 4/262)
Hakikat Taubat

Yang dimaksud istighfar dan taubat di sini bukan sekedar terucap di lisan saja, tidak membekas di dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Tetapi yang dimaksud dengan istighfar di sini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “Meminta (ampun) dengan disertai ucapan dan perbuatan dan bukan sekedar lisan semata.”

Sedangkan makna taubat sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang lebih baik (sebagai ganti). Jika keempat hal itu telah dipenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.
Begitu pula Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama berkata. ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga:
1.    Hendaknya ia harus menjauhi maksiat tersebut.
2.    Ia harus menyesali perbuatan (maksiat) nya.
3.    Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.

Jika salah satu syarat hilang, maka taubatnya tidak  sah, jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat, yaitu ketiga syarat di atas ditambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan, jika berupa had (hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas atau meminta maaf kepadanya dan jika berupa qhibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.

Demikian, semoga kita termasuk hamba yang banyak beristighfar, dan hamba yang bertaubat kepadaNya. Wallohu a’lam (Ujun – Majalah Nurul Ummah)

Sumber : Inspirasi bang Ilham

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here