تواصوا بالحق و تواصوا بالصبر

0
723
sabar

SEBAB hidup tidaklah selalu berjalan lurus. Jika kita salah, bisa jadi ada hal yang kita tidak ketahui. Karena setiap orang tentu mendambakan keselamatan hidup. Keselamatan dari kerusakan dan hal-hal yang membahayakan dirinya lahir maupun batin. Itulah hikmah mengapa kita mesti saling menasehati.

Sesungguhnya adalah hal yang penting sebuah nasehat dalam kehidupan kita. Agar kita tahu kekurangan kita dan segera memperbaikinya. Harus ada yang memberitahukan kepada kita tentang hal-hal yang tidak kita ketahui. Pemberitahuan itulah yang bisa jadi sebuah nasehat, masukan atau kritikan.

Rasulullah saw. mengatakan, “Seorang Mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya,” (HR. Al-Bukhari)

Orang muslim yang benar-benar bertakwa bukan hanya lepas dari sifat-sifat tercela, tetapi juga harus menghiasi dirinya dengan sifat dan akhlak yang mulia, positif dan konstruktif, yaitu akhlak suka saling menasehati dan jujur, dengan kepercayaan bahwa agama adalah nasehat, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah melalui sabdanya :
أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : “ الدين النصيحة ”. قلنا : لمن يا رسول الله ؟ قال : “لله ,و لكتابه, و لرسوله, و لأئمة المسلمين, و عامتهم .”
Agama itu nasehat, Kami bertanya, Untuk siapakah itu? Beliau menjawab, Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang awam dari mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikut adab dalam memberi nasehat kepada orang lain yang disarikan dari buku berjudul: “Selembut Perkataan Nabimu – Kiat agar Nasihat Laksana Embun Yang Menyejukkan”, karya Muhammad Abu Shu’ailaik.

1. Ikhlaskan niat
Semata-mata untuk mengharapakan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena yang demikian ini berarti pemberi nasehat akan mendapatkan balasan dari Allah Jalla wa ‘Ala, sehingga Allah pun akan membantu engkau agar orang yang dinasehati diberikan hidayah oleh-Nya.

2. Menasehati Secara Rahasia
Ini adalah adab yang kebanyakan dari kita tidaklah mengetahuinya. Perhatikanlah, bahwa penerima nasehat adalah orang yang sangat butuh untuk ditutupi segala keburukannya, dan diperbaiki kekurangan-kekurangannya. Maka, tidaklah nasehat akan mudah diterima bila disampaikan secara rahasia.

Imam Abu Hatim bin Hibban Al Busti rahimahumullah berkata: “Namun nasehat tidaklah wajib diberikan kecuali dengan cara rahasia. Karena orang yang menasehati saudaranya secara terang-terangan pada sejatinya ia telah memperburuknya (keadaan penerima nasehat). Barangsiapa yang memberi nasehat secara rahasia, maka dia telah menghiasinya. Maka menyampaikan sesuatu kepada seorang muslim dengan cara menghiasinya, lebih utama daripada bermaksud untuk memburukkannya”. (Raudhatul Uqala’, hlm 196)

3. Memberi nasehat dengan Halus, Penuh Adab dan Lemah Lembut.
Hal ini dikarenakan memberi nasehat ibaratnya seperti membuka pintu. Sedangkan sebuah pintu tidak akan bisa dibuka kecuali dengan kunci yang pas & tepat. Maka pintu itu adalah hati, dan kuncinya adalah nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, santun, dan halus. Ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam :
“Sesungguhnya kelemahlembutan tidaklah berada dalam sesuatu kecuali menghiasinya. Dan tidaklah terpisah dari sesuatu kecuali ia perburuk.” (HR. Muslim)

4. Tidak Memaksa
Orang yang menasehati tidaklah berhak sama sekali untuk menerima nasehatnya. Karena pemberi nasehat adalah seseorang yang membimbing menuju kebaikan. Sehingga hak pemberi nasehat hanyalah menyampaikan dan memberi arahan saja.

5. Memilih Waktu yang Tepat untuk Memberi Nasehat
Ibnu Mas’ud rodhiyallohu’anhu berkata:
“Hati itu memiliki rasa suka dan keterbukaan. Hati juga memiliki kemalasan dan penolakan. Maka raihlah ketika ia suka dan menerima. Dan tinggalkanlah ia ketika ia malas dan menolak.” (Al –Adab Asy-Syar’iyyah, karya Ibnu Muflih)

Dan ini sedikit tips menasehati teman (menurut pengalaman) :
1. Kapan memberi teguran ?

Jika memang perbuatan teman kita tadi sudah mengusik kepentingan dan teritori orang lain, sudah seharusnya kita menegurnya. Pilihlah waktu dan suasana yang tepat.

2. Jangan Menegur di depan umum.
Intinya, cari tempat dan moment yang tepat saat mengingatkan atau menegur. Jangan sekali-kali melakukannya di depan umum, karena bisa menyinggung harga dirinya. Usahakan teguran ini dilakukan hanya empat mata saja dan dalam suasana yang enak.

3. Sampaikan dengan senyum.
Untuk membuat seseorang memahami konsep benar atau salah, lakukanlah dengan cara yang santun. Perhatikan intonasi, pilihan kata-kata yang mampu mentransfer pesan sekaligus enak didengar.

4. Kemukakan dengan alasan yang jelas.
Pada diri setiap orang pasti melekat usur ego. Namun, kita harus mampu menunjukan bukti konkret mengapa kita menegur agar teman yang kita tegur bisa menerimanya.

5. Bersikaplah konsekuen.
Jika kita telah menegur teman kita dan dia cuek saja, jangan putus asa. Dalam hati pasti ia megakui, tetapi enggan berkata ya. Jika teman kita tadi mengulang perbuatannya lagi, kita harus konsekuen, tegur dia lagi. Jika orang itu berjiwa matang, tentu akan berfikir dan menangkap keseriusan teguran kita.

6. Teguran tertulis.
Bila teguran lisan tidak mempan, berikan secara tertulis. tulislah pesan dengan jelas, singkat dan mudah dicerna. Masukan ke dalam amplop tertutup supaya tidak ada orang lain yang mengintip isinya. Jangan lupa buat salinannya untuk dokumentasi, siapa tahu kelak kita membutuhkannya lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here