Jagalah Iffah Dengan Menikah

2
647
jaga iffah
ilustrasi

Oleh: Iffah Izzah A.

Menikah merupakan satu kata yang lazim dipikirkan banyak orang yang telah berkepala dua. Terlebih bagi mereka yang menginjak kepala tiga. Namun, kemiskinan atau belum mendapat pekerjaan layak yang tetap seringkali menjadi masalah klasik para pemuda untuk menunda pernikahan. Hingga akhirnya banyak dari mereka yang mengambil jalan tengah dengan berzina. Padahal sudah menjadi maklum bahwa zina adalah perbuatan keji dan dosa.
Sebagai pencipta, Allah Ta’ala telah mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Termasuk kebutuhan biologis anak cucu Adam. Rasa ketertarikan kepada lawan jenis merupakan fitrah manusia. Ketika seseorang menyukai sesama jenisnya, justru hal tersebut menandakan ia tak normal, bahkan perbuatannya mendatangkan murka Allah. Praktek homo kaum Nabi Luth cukup menjadi ibrah bagi kita. Mereka dibinasakan lantaran homoseks yang merajalela.
Di zaman upin ipin ini, juga merebak pelbagai penyimpangan seks. Manusia tak menyalurkan kebutuhan seks dengan semestinya. Pacaran dan perzinaan dianggap sesuatu yang wajar. Praktek homo dan lesbianisme juga merebak luas.
Islam telah menganjurkan pemeluknya untuk menikah. Islam tidak mengajarkan kerahiban. Jika sekarang banyak yang menunda atau bahkan enggan menikah lantaran finansial, maka bagaimanakah sikap yang harus diambil seorang muslim?

Definisi Menikah
Secara etimologi, nikah (النكاح) berarti mengumpulkan (الضم و الجمع), atau sebuah pengibaratan akan sebuah hubungan intim dan akad sekaligus, yang di dalam Islam dikenal dengan akad nikah. Adapun secara terminologi, makna nikah adalah sebuah akad yang mengandung pelegalan bersenang-senang dengan wanita (istri), baik dengan berhubungan intim, menyentuh, mencium, memeluk, dan sebagainya, jika wanita tersebut bukan termasuk mahramnya dari segi nasab, sesusuan, dan hubungan besan .
Anjuran Menikah
Menikah merupakan suatu hal yang dianjurkan dalam Islam. Tujuan dari pernikahan adalah menjaga keturunan. Hikmah di balik pernikahan pun sangatlah banyak. Sehingga sebagai seorang muslim, sangat tidak dianjurkan membujang jika hal tersebut menurut dia dapat membuat ibadahnya lebih banyak dan khusyu’. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abu Waqash, ia berkata; Rasulullah SAW., pernah melarang Utsman bin Mazh’un untuk membujang selamanya, karena semata-mata hendak melakukan ibadah kepada Allah. Andaikan beliau mengizinkannya, tentulah kami sudah mengebiri diri kami sendiri . (HR. Muslim)
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: Ada sekelompok orang datang ke rumah istri-istri Nabi SAW., mereka menanyakan tentang ibadah Nabi SAW. Setelah mereka diberitahu, lalu mereka merasa bahwa amal mereka masih sedikit. Lalu mereka berkata, “Dimana kedudukan kita dari Nabi SAW, sedangkan Allah telah mengampuni beliau dari dosa-dosa beliau yang terdahulu dan yang kemudian”. Seseorang diantara mereka berkata, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan shalat malam terus”. Yang lain berkata, “Saya akan puasa terus-menerus”. Yang lain lagi berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya”. Kemudian Rasulullah SAW datang kepada mereka dan bersabda, “Apakah kalian yang tadi mengatakan demikian dan demikian? Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan orang yang paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian. Sedangkan aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan aku mengawini wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Bukhari, dan lafadh ini baginya, Muslim dan lainnya]
Tafsir Para Ulama Mengenai Firman Allah Q.S. An-Nur: 32
Setelah memerintahkan ghaddul bashar (menundukkan pandangan) dan menjaga kemaluan, Allah Ta’ala menunjukkan kepada sesuatu yang dihalalkan bagi para hamba-Nya, yaitu menikah. Dengan itu mereka bisa menyalurkan syahwatnya, terjaga dari godaan untuk berzina, memudahkan mereka untuk ghaddul bashar dari pelbagai pemandangan yang diharamkan, dan juga bisa membantu untuk menjaga kesucian dari hal-hal yang haram .
Dalam surah an-Nur ayat 32, Allah memerintahkan para wali untuk menikahkan al-Ayyim. Maksud al-Ayyim dalam ayat tersebut adalah laki-laki dan wanita yang tidak memiliki pasangan, baik kerena mereka menikah lalu berpisah, atau sama sekali belum pernah menikah. Perintah dalam ayat tersebut adalah menikahkan para single baik dari laki-laki dan wanita yang merdeka maupun berstatus budak .
Kita juga tidak diperbolehkan melarang atau menghalangi seorang yang hendak menikah lantaran kefakirannya. Karena Allah berjanji akan memberi kecukupan bagi hamba-Nya yang fakir setelah ia menikah . Janji tersebut merupakan hak bagi hamba Allah yang bertakwa. Dalam surat ath-Thalaq disebutkan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ…
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Dari ayat tersebut, diketahui bahwa ketaatan pada Allah termasuk sebab turunnya rizqi . Ketika seseorang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Sesulit apapun kehidupan dia. Menikah jua bentuk bertaqwa kepada Allah. Karena dengan dia menikah dia dapat menjaga kemaluannya dari perkara haram.
Secara dhahir nash, orang yang telah menikah serta dijanjikan oleh Allah dengan kekayaan, adalah dia yang berharap pernikahannya tersebut bisa membantunya untuk mentaati perintah Allah, yaitu dengan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah Saw., dalam sebuah hadits shahih:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
“Wahai pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah ba’ah, maka hendaklah ia menikah, karena dengannya ia lebih mudah untuk menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.”
Jika dia benar meniatkan nikahnya untuk melaksanakan kataatan pada Allah dengan menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, maka janji Allah akan kekayaan berlaku atas ketaatan tersebut .
Az-Zujaj mengatakan: “Allah Ta’ala menganjurkan hamba-Nya untuk menikah dan memberitahukan bahwa itu dapat menghilangkan kefakiran. Namun hal ini tidaklah menjadi keharusan bagi setiap orang fakir yang menikah (menjadi kaya). Semuanya tetap tergatung dengan kehendak Allah.” Kita juga sering mendapati di luar sana banyak kaum fakir yang tidak serta merta menjadi kaya saat mereka telah menikah. Ada yang mengatakan, maksud Allah menjadikan mereka kaya (يغنهم الله) adalah kaya hati . Sudah menjadi maklum, bahwa kaya miskin adalah ketentuan dari Allah. Dia-lah yang menjadikan siapa yang dikehendaki-Nya kaya, dan Dia jua yang menjadikan siapa yang dikehendaki-Nya miskin.
Wahbah az-Zuhaili mengatakan: “Seorang wali tidak boleh menggunakan alasan -tidak ada harta- untuk menghalangi suatu pernikahan. Karena Allah menjanjikan kekayaan bagi para fakir dengan pernikahan mereka. Dengan pernikahan tersebut keduanya mengharap ridha Allah dan menjaga diri mereka supaya tidak bermaksiat kepada-Nya. Sehingga janganlah melihat masalah finansial. Baik kefakiran dari pihak yang melamar atau yang akan dilamar .
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Saw, bersabda: “Tiga orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya, dan orang yang menikah yang ingin menjaga kehormatan dirinya (iffah). (HR. Ibnu Majah)
Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman:
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.”
Ayat tersebut merupakan tuntutan Allah kepada para hamba untuk menjaga iffah. Makna ista’affa adalah perintah menjaga kesucian diri dari perbuatan zina dan semua perbuatan lain bagi mereka yang belum memiliki persiapan menikah (perantara untuk menikah), yaitu harta. Dikatakan juga bahwa makna kata an-Nikah dalam ayat tersebut adalah sesuatu yang umumnya ada ketika menikahi wanita, yaitu mahar dan nafkah .
Solusi bagi mereka yang belum mampu menikah pun telah diberitahukan oleh Nabi Muhammad Saw., melalui sabda beliau:
….و من لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء
“…. barangsiapa belum mampu menikah, maka hendaknya dia berpuasa, karena itu menjadi penawar baginya.”
Penutup
Dari pembahasan di atas, maka diketahui bahwa Allah memerintahkan para wali untuk menikahkan para laki-laki ataupun wanita yang hidup sendiri tanpa teman hidup di sisinya. Tak usah jua menunda atau bahkan menghalangi pernikahan mereka lantaran faktor ekonomi. Karena dengan menikah, insyaAllah kesucian mereka lebih terjaga serta memudahkan mereka pula dalam menjaga pandangan. Adapun bagi mereka yang masih belum mampu menikah, karena sama sekali tidak memiliki harta yang bisa dijadikan mahar misalnya, maka hendaklah mereka memperbanyak puasa, karena hal tersebut bisa membantunya dalam mengendalikan nafsu. Akhirnya, bagi siapapun yang sudah mampu, maka sudah seyogyanya dia tidak menunda-nunda pernikahan, dan mari menjaga iffah dengan menikah.
Wallahu a’lam bish shawab.

DAFTAR PUSTAKA
Jazairy, al-, Jabir. Aisar at-Tafasir likalam al-‘Ali al-Kabir. Saudi Arabia: Maktabah al-Ulum wa al-Hikam. 2003.
Katsir, Ibnu. Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim. Kairo: al-Maktabah at-Taufiqiyah. Tp.
Syaukani, asy-. Fath al-Qadir. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 2003.
Syinqithi, asy-. Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr. 2009.
Thabari, ath-. Tafsir ath-Thabari. Cet ke-4. Kairo: Dar as-Salam. 2009.
Zuhaily, az-, Wahbah. Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu. Cet. ke-2 Damaskus: Darul Fikr. 1985.

_______________. At-Tafsir al-Washit. Damaskus: Darul Fikr. 2001.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here