Polemik Seputar Haidh dan Istihadhoh

0
321
haidh
ilustrasi

Oleh: Inayah Nazahah

Sebagai kaum hawa tentunya kita tak asing lagi dengan istilah haidh dan istihadhah. Sebab istilah tersebut merupakan istilah yang sudah masyhur dikalangan kita sebagai wanita. Haidh merupakan fitroh yang dialami oleh wanita, ia merupakan darah yang mengalir dari rahim wanita karena tidak mendapatkan pembuahan didalam rahim dan merupakan darah penyakit atau darah yang rusak. (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin: 1/ 188, al-Wajiz fi Fiqhi al-Islami/ 1: 126) Sedangkan darah istihadhah adalah darah yang keluar dari rahim tidak pada masa haidh maupun nifas karena penyakit. ( al-Fiqhu ‘ala Madzahib al-Arba’ah: 1/119)
Sebagaimana kita ketahui bahwa tak ada permasalahan berarti mengenai haidh dan istihadhah. Hanya saja, ada beberapa kondisi yang masih menyisakan tanya diantara kita, di antaranya ialah bagaimana cara kita mengqadha shalat yang tertinggal saat haidh padahal sudah masuk waktu sholat, atau berhenti saat masuk shalat dalam kondisi terbatas waktu? Lalu bagaimana cara membedakan darah haidh dengan darah istihadhah? Bagaimana tatacara sholat bagi wanita mustahadhah?
Haidh atau Suci Saat Mendapati Waktu Shalat
Banyak diantara kita kaum wanita, masih sering bingung tatkala haidh hendak berakhir, bingung bagaimana tanda-tanda yang dapat dikenali untuk mengetahui sucinya kita. Maka, tanda seseorang telah suci dari haidh dapat kita ketahui dengan memperhatikan dua hal penting yaitu, darah benar-benar berhenti tidak ada bercak-bercak darah lagi atau warna kekuningan dan keluarnya cairan putih.(al-Qawanin al-Fiqhiyyah: 1/ 40)
Setelah kita tahu bahwa kita telah suci dari darah haidh, dan kita ingat bahwa saat mendapati haidh setelah masuk waktu shalat, maka walau kita hanya mendapati waktu untuk mendapatkan satu rekaat maka kita tidak harus mengadhanya sebab kita telah mendapatkan beban taklif. Hal ini juga berlaku saat seorang wanita mendapati suci sesaat (jangka waktu satu rakaat) sebelum berakhirnya salah waktu shalat maka ia juga harus mengqadhanya. Adapun jika hanya mendapati waktu sejenak yang tidak dapat untuk melaksanakan satu rekaat maka ia tidak wajib mengqadhanya. Hal ini berdasarkan dalil ” من أدرك رآعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة ”
“ Barang siapa mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka dia telah mendapatkan shalat itu” (Muttafaqun ‘ alaih).
Cara Mengetahui Darah Istihadhah
Banyak di antara kita yang masih bingung membedakan antara darah haidh dan darah istihadhah. Di antara cara mengetahui darah istihadhah adalah dengan mengetahui darah kebiasaan kita. Namun ada sebagian wanita yang siklus haidhnya tidak teratur sehingga susah untuk menentukan darah istihadhah. Oleh karena itu, mengenai wanita mustahadhah terbagi dalam 3 keadaan (Fatwa-Fatwa Tentang Wanita: 57)
1. Sebelum mengalami isthihadhah, ia mengetahui secara pasti masa-masa haidh (ketentuan berapa hari haidhnya/kapan jadwal haidhnya).
Maka ia harus menunggu sampai masa haidhnya selesai, kemudian ia menghukumi sebagai darah isthihadhah. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah,
“Tetapi tinggalkanlah shalat mengikuti kadar hari-hari yang (biasanya) engkau haidh. Kemudian mandilah dan shalatlah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
2. Sebelum mengalami isthihadhah, ia tidak mengetahui secara jelas masa-masa haidh. Maka hendaknya ia melakukan tamyiz (membedakan) ciri-ciri antara keduanya. Hal ini berhujjah dengan hadits Fathimah bintu Abi Hubaisy, Rasulullah r berkata kepadanya,
إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّه دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلَاةِ، فَإِذَا كَانَ الْاَخَرُ فَتَوَضَّئِي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ
“Bila darah itu darah haidh, maka darahnya hitam yang sudah dikenal. Sehingga tinggalkanlah shalat, jika selain itu maka berwudhulah karena itu darah penyakit.”
3. Sebelum haidh ia tidak memiliki waktu/masa-masa haidh yang tidak pasti tapi ia tidak dapat membedakan antara darah haidh ataupun darah isthihadhah dan darahnya hanya memiliki satu sifat saja.
Maka hendaknya ia mengambil keumuman masa haidh para wanita. Sebagaimana hadits Hamnah binti Jahsy,
“Sesungguhnya itu adalah darah rakhdah (godaan )setan. Oleh karena itu, anggaplah masa haidhmu adalah selama 6 hari atau 7 hari (Allah Yang Mengetahui yang sebenarnya). Kemudian mandilah, sehingga apabila engkau dapati bahwa engkau telah suci dan engkau yakin bahwa darah berhenti, maka shalatlah 24 hari atau 23 hari….” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Tatacara Sholat bagi Wanita Mustahadhah
Wanita yang mengalami istihadhah tidak diwajibkan mandi setiap kali hendak sholat, hanya saja mandi sebagiamana hal tersebut hanya bersifat mandub atau disunnahkan.(al-Wajiz fi Fiqhi al-Islami/ 1: 128) Wanita yang istihadhah memiliki dua pilihan yaitu wudhu setiap kali hendak sholat sebagaimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Adi bin Tsabit dari bapaknya dari kakeknya bahwa nabi bersabda mengenai wanita mustahadhah “tinggalkanlah sholat di hari-hari kamu mendapatinya, lalu mandilah berpuasalah dan sholatlah, dan hendaknya engkau berwudhu setiap kali hendak sholat” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi) (al-Mughni: 1/ 279, al-Wajiz fi Fiqhi al-Islami/ 1: 128)

Dr. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya “al-Wajiz” menyebutkan bahwa dianjurkan sebelum wudhu membersihkan kemaluanya untuk meringankan najis yang ada dan memakai pembalut berdasarkan hadits Hamnah binti Jahsyi “berilah pembalut, sebab sesungguhnya ia menahan darah”. (HR. Tirmidzi)
Dalam madzhab Hanbali disebutkan alternatife lain berupa mandi dengan menjamak dua sholatnya yang berdekatan, sebab nabi Shalallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan Hamnah binti Jahsyi untuk menjamak dua sholatnya dengan satu kali mandi. (al-Mughni: 1/ 280) Wallohu A’lam.

Refrensi:
Ibnu ‘Abidin , Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, juz 1
Ibnu Qudamah , al-Mughni ‘ala Mukhtashar al-Khiraqy, juz 1
Wahbah az-Zuhaili , al-Wajiz fi Fiqhi al-Islamy, juz 1
Muhammad Ibrahim Alu Syaikh , Fatwa-Fatwa Tentang Wanita
Ibnu al-Juzay ,al-Qawanin al-Fiqhiyyah, juz 1
Ibnu al-Jazairy , Al-Fiqhu ‘ala Madzahibi al-Arba’ah, juz 1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here