TAK SEMUDAH A.I.U.E.O. (Part 1)

0
644
kisah

Bintang timur itu merangkak pelan,
Menyulam jejak memori usang,
Onggokan selendang hitam terkadang hadir menyapaku,
Melumpuhkan asa bila masa lalu,

Episode demi episode terlewati. Behind the scene, cuplikan skenario panggung sandiwara fatamorgana maya belum usai. Sketsa cerita anak manusia yang kini beranjak dewasa. Secarik goresan pena masa kelam yang semoga Allah Ta’ala menutupnya dengan senyuman. Serpihan yang semoga bisa aku ganti dengan lukisan tinta emas.

Dari setetes mani aku terlahir ke dunia. Hidup di Negara dua musim garis   khatulistiwa, ditengah keluarga yang gersang akan nilai agama, kini ku memasuki usia yang tak lagi muda. Menjelma bak kupu- kupu yang siap terbang melanglang ke angkasa raya.

Anak ke-2 dari 4 bersaudara, tapi ibarat yang selalu menjadi anak tertua. Hidup dibawah asuhan seorang pembantu rumah tangga nan sangat jauh dari nilai agama, itulah aku. Bagaimana tidak, diusia yang belum sempat ku mengenyam dunia formal pendidikan, aku resmi menjadi anggota club bulu tangkis di kotaku. Hal itu tak lain dan tak bukan karena orang tuaku terutama ayahku yang sangat menginginkanku menjadi atlet professional kelak.
Masa kecilku tak seperti anak- anak seumuranku lainnya, berlari, bermain dengan alam bebas, lepas, mengungkap, mengkhayal, berekspresi dan berfantasi sebagaimana semestinya. Sedikit sekali aku merasa. Jikalau aku menilik, berbalik arah dan meneropong memoar ruang hampa itu, bayang- bayang sejarah semu seakan tak teraba, tak terasa.
Jatuh bangun yang tak kenal lelah serta support ayahku membuahkan hasil. Menjuarai berbagai laga pertandingan bulutangkis dengan menyandang predikat sebagai pemain tunggal putri ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar berhasil ku ukir manis. Target tinggi ku pasang demi Negara dan keluarga, mustahil jika semua itu tanpa usaha. Banting tulang, cucuran keringat bahkan air mata keletihan adalah hidangan keseharian. Latihan fisik, lari ber kilometer bak makan petang kala sore menjelang. Puji kehadirat-Nya, banyak penghargaan berhasil ku persembahkan teruntuk orang terkasihku, ayah ibuku. Itulah bukti keseriusanku, bukti janjiku.

Sebagai manusia biasa, tak jarang juga titik jemu sering menjadi benalu di pikiranku. Latihan, latihan dan latihan bulutangkis adalah kata yang setiap hari menjejali memenuhi memori. Tapi semua letihku itu seakan sirna, karena binar yang terpancar dari raut ayah dan ibu yang selalu menyertai, membius membangkitkan bara mengibarkan merah putih yang mereka tumpukan di pundakku.

Selain atlet, menjadi penyanyi adalah gen yang aku peroleh dari suara merdu sang guru kehidupan pertamaku, ibu. Profesi penyanyi ketika muda itulah sosok yang melahirkanku. Panggung ke panggung banyak ku lalui bersamanya. Dan dari tangannya pula berhasil ku asah seni suara.

Life is going. Tanda beranjak masa puber. Di bangku SMP semakin ku kibarkan bakat menyanyiku. Guru vokal yang killer ditambah grup band yang aku gawangi saat itu menambah keseriusanku menggeluti dunia musik. Sebagai seorang vokalis, tak jarang audisi dan kontes vokal yang aku ikuti di berbagai kota. Itu semua tak lepas dari do’a sang tokoh belakang layar yang senantiasa terjaga, ibu, aku memanggilmu dengan segenap cinta kasih padamu.

Lembar demi lembar cerita hidup terus berlanjut, mesin waktu bagaikan pedang, menerjang semua yang menghadang. Sementara, sketsa drama dunia terus berjalan, bak busur panah yang dilepas bebas, tak terbata ke udara luas.

Sebuah SMA Negeri favorit berhasil ku gapai. Masa remaja yang ku lalui, banyak ku habiskan di sebuah kost berpagar besi. Berteman sebuah gitar sebagai penghibur diri kala sepi menghampiri, berkawan dinding putih yang penuh dengan tempelan foto dan penghargaan sebagai saksi bisu atas belajar yang tak sebentar. Tiga tahun, first time ku tapaki hidup jauh dari orang tua.

Tak jauh berbeda, menjadi pelatih bulutangkis adalah profesi di sekolah yang bermurid lebih dari 1200 siswa itu. Sebuah piala dengan ukuran yang tidak bisa dikatakan kecil berhasilkan aku sumbangkan, ternyata menjadi prestasi terakhirku kiprah dunia olahraga. Sebagai anak sosial (IPS) waktuku banyak dibilang, salah satu mata pelajaran favorit. Ekonomi akuntasi adalah cita- cita yang kelak aku harus bisa taklukan di sebuah Fakultas Negeri di kotaku.
Bukan punah, justru seni suaraku semakin terasah. Pagelaran musik dari segala jenis aliran, audisi dan berbagai lomba tak jarang absen ku mengikutinya. Menyandang gelar Indonesian idol sebagai perwakilan kota solo menjadi sebuah anugerah tersendiri bagiku. Senang itu pasti, bisa berkumpul bersama VJ Daniel dan para artis idol kala itu. Bukan tanpa usaha, bahkan lantunan nada A, I, U, E, O sebagai saksinya. Latihan ketat hari demi hari tak kenal henti, makanan super duper tak sembarangan yang ku komsumsi. Belum lagi, ocehan   sang guru vocal yang tak jarang menghampiri bertubi-tubi. Itu semua ku lakukan demi mimpi, mimpi terbang Go internasional ke Negara empat musim.

Bisa diterka, mustahil rasanya kalau aku adalah wanita yang bertutup kepala. Jangankan itu, celana jeans di atas lutut dan t-shrit adalah seragam harianku, karena tuntutan profesi yang mengharuskan seperti itu. (Bersambung Part 2)

Oleh: me_@guardiand
Sumber: majalah an-Najma, edisi 88, vol. 4, Jumadil Tsaniyah 1436H/ April 2015M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here