SEBUAH OASE

1
825
بسم الله الرحمن الرحيم
  Tak terasa 4 tahun hampir  dalam naungan ridho-Nya ma’had disebuah JawaTengah.Disini semua santri bebas menjalankan syari’at islam karena memang di tempat  ini kami ditempa untuk menjadi muslimah kaffah.Terutama masalah hijab,kami senantiasa melenggang dengan mudah menggunakan kerudung besar (bergo) dan jubah longgar hingga  cadarnya.
Teringat masa silam saat aku masih duduk dibangku SMP, tak pernah terbayang olehkku akan  mengenakan pakaian ini. Sampai  tiba seorang ummahat (sebutan untuk seorang wanita) yang singgah sejenak di masjid sekolah untuk menunaikan sholat ashar. Aku memandanginya dengan tatapan sinis lagi mengejek. Namun sekarang, biidznillah aku telah mengenakan busana yang dikenakan ummahat lengkap dengan cadarnya. Alhamdulillah, segala  puji bagi Allah ‘azza wajalla  yang  telah  memberi  hidayah padaku.
Agustus 2012
Sebulan berlalu aku  melahap ilmu di ma’had ini dan kini tiba liburan pertama bagiku,libur ramadhan. Aku kembali ke kampung halaman nan jauh dari ma’had,sekitar 10 jam   waktu yang kutempuh untuk kembali. Di rumah, aku  di sambut dengan suka cita, walaupun pakaianku telah berubah. Bahkan aku dihadiahi jubah hitam lengkap dengan bergo dan cadar serta dua burdah hitam.
Selama di rumah aku juga tidak memutuskan tali silaturrahim dengan sahabat-sahabatku. Aku tetap berkomunikasi dengan mereka, apalagi dengan sahabat-sahabat keputrian. Sebenarnya aku merindui perjumpaan dengan mereka, namun apadaya,jarak dan waktu memisahkan kami.
Desember 2012
Ini adalah liburan keduaku, aku dan dua orag sahabatku mengunjungi SMP kami. Mengenang masa-masa kami disana. Kami berjumpa dengan para guru,bersalaman dan mencium tangan mereka. Terkecuali para guru lelaki kami, aku tidak mencium tangan mereka namun aku tetap menunjukan rasa hormat pada mereka.
Di SMP kami bertemu dengan guru Bahasa Inggris, beliau berbeda agama dengan kami. Beliau menatapku sinis seraya berkata, ‘’Maaf ya, disini gak ada pengajian ibu-ibu. ‘’Pulang sana!’’. Aku hanya tersenyum, sahabatku memberiku isyarat agar aku diam dan bersabar.
Agustus 2013
Kembali bertemu dengan bulan penuh berkah, bulan romadhon. H+2 hari raya aku mengunjungi rumah salah seorang sahabatku. Aku terkejut dengan perubahannya, sekarang ia telah mengenakan pakaian syar’i. Terlihat teduh sekali wajahnya. Via bukanlah anak pondok, ia bersekolah di SMK namun ia bisa berhijab syar’i, ia membuatku tertegun.
Aku berbincang-bincang dengannya di kamar, tak lama kemudian ia keluar dari kamarnya. Tak sengaja aku mendengar perbincangannya dengan Ibunya mengenai hijab. Sekilas aku dengar, ibunya tak menyukainya berhijab syar’I apalagi bercadar.
Ternyata selain bersilaturrahim, Via menginginkanku untuk bertukar pikiran dengan ibunya. Ibunya  beranggapan  bahwa, wanita  bercadar itu kaku, tidak ramah, dan sangat tertutup.
Tabayyun  kemudian  aku lakukan  bersama ibu Via. Aku jelaskan mengenai wajibnya wanita menutup aurat, dan juga tidak semua wanita itu  seperti prasangka ibunya ketika memakai cadar. Aku tunjukkan dengan tutur  kata  dan adab-adabku. Untuk menyaksikan sang ibu, bahwa tidak semua wanita bercadar itu kaku. (Beliau diam sejenak. Entah mungkin masih berfikir ).
Ibu Via kala itu masih belum sepenuhnya menerima anaknya berhijab syar’i. Bahkan bergo-bergo Via hendak  dibakar ibunya. Ketika aku pamit untuk pulang karna telah senja, Via menitipkan bergo -bergonya padaku. Ia takut ibunya tiba-tiba berubah pikiran dan membakarnya. Ketika aku tanya ia nanti akan mengenakan apa kalau bergo –bergonya padaku, Via menjawab, ’’Aku ada beberapa kerudung kotak ukuran besar, pakai itu dulu, nanti kalau mama sudah berubah pikiran bergonya aku pakai kok ’’.
Akhirnya aku pulang dengan kekecewaan hati karena ibu dari sahabatku belum  sepenuhnya mengizinkan anaknya berhijrah. Aku pulang dengan kekecewaan hati karena aku belum bisa membuat sahabatku leluasa dengan hijab syar’inya. Satu pelajaran yang bisa aku ambil dari sahabatku ini :
‘’Suatu perubahan dalam diri kita untuk kebaikan, belum tentu semua orang suka dan mendukung. Bisa jadi niat baik kita untuk berubah dihalangi oleh orang-orang yang sangat kita cintai. Jadi kalau kita tahu dalam kebenaran, perjuangkanlah! Bersabarlah! Karena sesungguhnya Allah azza wa jalla  bersama orang-orang yang bersabar’’.
Lu’lu  Ammantsura, PPINH Banyumas
” الحمدلله ربّ العلمين “

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here