Menggali Ilmu Jemput Bahagia Mu

0
27

Berbicara tentang Dien, maka tak akan terlepas dari kata thalabul ‘ilmi, ya , ilmu, karena ayat yang pertama kali turun adalah ” اقرأ”  ‘bacalah!’. Perintah sederhana itu mendahului dari perintah apapun, bahkan sebelum pokok-pokok islam diajarkan. Beliau yang ummi (red:butahuruf) terkejut akan wahyu kebenaran seterang fajar di gua hira itu manakala yang  beliau dapati adalah kalimat “bacalah!”, maka dari sini Allah SWT memberikan hikmah yang amat luas  kepada hamba-Nya,  bahwasanya membaca adalah pintu dari pada menggali  ilmu yang lebih luas lagi, kemudian  kelak ketika islam sebagai agama dan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa  risalah dituduh-tuduh sebagai ‘plagiator’ atas ajaran sebelum nya, maka ke ummi-an Rasulullah SAW adalah jawaban nyata akan kemurnian ajaran islam.

 

Beribrah dari perang salib

                Ketika Raja Louis IX tertawan oleh pasukan muslimin dalam penaklukan Baitul Maqdis, ia tak henti-henti nya berfikir bagaimana bisa pasukan nya yang jumlahnya puluhan ribu dikalahkan oleh kaum muslimin yang tak seberapa jumlah nya,  bagaimana bisa tentara nya dipukul telak oleh kaum muslimin yang biasa-biasa saja senjata dan amunisi nya.

Akhir nya Raja Louis yang penasaran pun selama masa tahanan nya ia mengamati  tentara muslim , lantas menyimpulkan bahwa kekuatan yang  dimiliki pasukan muslim bukan dari seberapa banyak jumlah tentara nya, bukan dari seberapa canggih senjata-senjata nya, akan tetapi rahasia keberhasilan pasukan muslimin karena lekat nya hati dan diri mereka dengan  agama dan sumber ajaran nya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keakraban mereka dengan ilmu dari Rabbnya ,dan dengan ilmu pengetahuan.

Lantas setelah Louis IX terbebas dari tawanan, dia arahkan para menteri nya agar universitas-universitas dibangun, gedung-gedung pendidikian didirikan ,lalu dikajilah Al-Qur’an dan Sunnah untuk menyingkap kelemahan dan kekurangan agama islam. Al-Qur’an beserta Hadits-hadits diterjemahkan kedalam bahasa mereka ,hingga pada akhirnya lahirlah pakar-pakar ilmu orientalis yang ahli akan islam namun tak sedikitpun beriman kepadanya.

Syaikh Syakib Arsalan mengatakan bahwa  kaum muslimin akan mengalami kemunduran apabila mereka meninggalkan agama mereka, sedangkan ‘barat’ akan mengalami kemajuan karena mereka meninggalkan agama mereka yang dipenuhi dengan khurafat dan takhoyyul.

Maka ketika Dien yang jernih ini dikotori oleh kejahilan, khurafat dan takhoyyul maka rusaklah para pemeluk agama nya.

               

Mencontoh Generasi Salaf

                Sejarah membuktikan, bahwa ulama-ulama terdahulu telah mempelajari ilmu-ilmu dunia jauh sebelum media  barat mempublikasikan lalu mengklaim sebagai temuan mereka, kita  bisa melihat dari  istilah-istilah yang digunakan dalam ilmu pengetahuan menggunakan Bahasa arab, seperti Al-Jabar dalam matematika nya, lalu buku-buku kedokteran  karangan  Ibnu Sinna.

                Roda kehidupan senantiasa menggerus zaman, apakah ilmu juga senantiasa bertambah dalam menapak zaman? Kita mungkin berfikir seiring berkembangnya zaman maka ilmu pun juga  mengalami kemajuan, namun pada realita nya hal tersebut tak sepenuh  nya bisa dibenarkan, para ulama akan terus dikejar usia sedang yang berguru kepada mereka tidaklah seberapa. Lantas jika generasi yang sekarang ini jauh dari ilmu, apa yang akan terjadi dengan generasi-generasi setelahnya?

               

                Yang perlu kita garis bawahi adalah agama ini adalah ilmu, ilmu tauhid, ilmu ma’rifatullah, ma’rifaturrasul, anatara agama dan ilmu kedua nya tak bisa dipisahkan, maka sesiapa ingin  selamat nya dunia serta  ikmat nya akhirat, sudah selayknya ia melazimi tholibul ‘ilmi, kapanpun dan di manapun.

Dan sejatinya dari kehidupan ini kita pun belajar, karena kehidupan adalah guru hikmah paling hebat.

Belajar! Belajar! Dan Belajar!.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here