Air Mata Fudhail Bin Iyadh

0
425
air mata

Ali bin Khasyram berkata, “Seorang tetangga Fudhail bin Iyadh menceritakan, dulu Fudhail bin Iyadh membegal sendirian. Suatu malam ia keluar untuk membegal, ternyata ia mendapati suatu kafilah yang kemalaman. Seorang di antara mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Mari kita kembali ke kampung itu, karena di hadapan kita ada seorang pembegal yang bernama al-Fudhail.’ Ketika al-Fudhail mendengarnya, ia menjadi gemetar lalu berkata, ‘Wahai kaum, aku al-Fudhail. Silahkan lanjutkan perjalanan. Demi Allah, aku akan berusaha untuk tidak bermaksiat kepada Allah selamanya.’ Lalu ia kembali dari jalan yang pernah ia tempuh.”

Diriwayatkan dari jalur lainnya bahwa ia menemui mereka pada malam itu, dan berkata, “Kalian aman dari al-Fudhail.” Ia lalu keluar untuk mencari rumput untuk tunggangan mereka. Lalu ia kembali mendengarkan seorang qari’ sedang membaca,

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.’Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.’ (Al-Hadid: 16).

Ia menjawab, ‘Benar, demi Allah, sudah tiba waktunya.’ Ia pun mulai menangis dan beristighfar. Inilah awal taubatnya.

Ibrahim bin al-Asy’ats berkata, “Aku mendengar al-Fudhail pada suatu malam membaca surah Muhammad sambil menangis dan mengulang-ulang ayat ini,
‘Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.’ (Muhammad: 31).

Ia segera menyatakan (menirukan firmanNya), ‘Dan Kami menyatakan hal ihwalmu!’ Ia terus mengulang-ulang sembari berkata, ‘Engkau menyatakan hal ihwal kami. Jika Engkau menyatakan hal ihwal kami, maka Engkau membuka aib kami dan menyibak tirai kami. Jika Engkau menyatakan hal ihwal kami, Engkau membinasakan kami dan mengadzab kami.’ Aku mendengarnya berkata (kepada dirinya sendiri), ‘Kamu berhias karena manusia, kamu bersandiwara untuk mereka, dan bersiap-siap untuk mereka. Kamu terus berbuat riya’ sehingga mereka mengakuimu sebagai orang shalih. Lantas mereka menyelesaikan berbagai hajatmu, meluaskan untukmu dalam suatu majelis, dan memuliakanmu. Kegagalanlah yang kamu peroleh, betapa buruk keadaanmu, jika demikian perihalmu!’ Aku mendengarnya berkata, ‘Jika kamu mampu agar tidak dikenal, lakukanlah. Tidak mengapa bila kamu tidak dikenal, tidak mengapa bila kamu tidak disanjung, dan tidak mengapa kamu dicela oleh manusia asalkan kamu terpuji di sisi Allah’.”

Allahu Akbar! Semulia ini derajatnya, yakni jiwanya menjauhi harta duniawi dan dosa. Sampai-sampai jika engkau melakukan kebajikan, engkau tidak menginginkan seorang pun yang mengetahuinya. Bahkan seandainya orang-orang melihat segala kebajikanmu, maka engkau menilai perbuatanmu sebagai riya’.

Betapa mengherankan apa yang dilakukan kaum yang dungu pada zaman ini! Yaitu para pengklaim, kaum yang melakukan kerusakan di muka bumi dan kaum yang tiran lagi zhalim, mereka senang sanjungan, pujian, dan kemuliaan semu, yang menunjukkan kekosongan dan kekerasan dalam jiwa, ruh dan hati.

Sungguh celakalah orang-orang yang keras hatinya dan orang-orang yang terpedaya. Demi Allah, Mereka adalah manusia yang paling menderita, karena mereka menghalangi diri mereka merasakan lezatnya kedekatan dengan Allah, cinta karena Allah, dan menangis karena takut kepada Allah.

Karena itulah, seorang shalih pernah ditanya tentang pernyataannya, “Seandainya para raja mengetahui Allah, lezatnya kedekatan dengan Allah, meninggalkan negeri yang penuh tipu daya, dan dengan berdzikir, maka kegembiraan akan berlangsung terus.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here